Program Jaminan Kesehatan Nasional, Sudahkah Sustainable?

jknIlustrasi: JKN PKMK – Menurut rekapitulasi master file kepesertaan dan luaran aplikasi referensi online BPJS Kesehatan per 31 Desember 2014, walaupun fasilitas kesehatan (faskes) belum merata, namun pertumbuhan faskes sejalan dengan pertumbuhan jumlah peserta JKN. Laporan pengelolaan program JKN tahun 2014 juga menunjukkan pengeluaran untuk biaya pelayanan kesehatan cenderung meningkat melebihi total iuran peserta JKN. Sustainabilitas JKN pun menjadi sorotan utama yang perlu diperhatikan.

Salah satu dari enam poin kesepakatan komisi XI dengan Kemenkeu adalah menyetujui tambahan penyertaan modal negara (PMN) pada BPJS Kesehatan sebesar Rp 3,46 triliun demi menjaga kelancaran pelayanan dan dana cadangan untuk DJS Kesehatan sebesar Rp 1,54 triliun. Meskipundemikian, penambahan PMN tidak memberikan solusi jangka panjang ketika monitoring dan evaluasi JKN tidak diikuti dengan perbaikan kebijakan. Beberapa kajian menyatakan bahwa tantangan skema asuransi kesehatan bukan lagi karena tingginya populasi yang berusia lanjut, melainkan terkait intervensi teknologi dalam ekpansi pelayanan kesehatan, pergeseran penggunaan obat yang lebih mahal, pembiayaan penyakit katastrofik, dan lainnya.

Di lain sisi, tantangan pembiayaan kesehatan yang cenderung bukan karena faktor demografi menjadi kabar “baik” tersendiri. Saat ini partisipasi publik memegang peranan penting dalam mengatasi tantangan dalam pembiayaan kesehatan. Partisipasi ini juga telah diterapkan dalam skema Medicare di Kanada. Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai sustainabilitas dalam asuransi kesehatan, berikut terlampir beberapa kajian yang terkait.

pendaftaran-alert

regulasi-jkn copy

arsip-pjj-equity

Dana-Dana Kesehatan

pemerintah

swasta-masy

jamkes

*silahkan klik menu diatas

Policy Paper

Link Terkait

jamsosidthe-lancet