Hadapi Beban Ganda Penyakit, Nafsiah Mboi: Perlu Tingkatkan Pencegahan

https://s3-ap-southeast-1.amazonaws.com/jawapos/thumbnails/670_410_hadapi-beban-ganda-penyakit-nafsiah-mboi-perlu-tingkatkan-pencegahan_m_224203.jpeg

JawaPos.com - Indonesia mencatat kemajuan besar dalam bidang kesehatan sejak tahun 1990. Terlihat dengan meningkatnya usia harapan hidup jadi delapan tahun lebih lama, serta menurunnya beban penyakit menular seperti diare dan tuberkulosa (TBC). 

Tapi kini penyakit tak menular seperti diabetes, stroke, dan jantung semakin tinggi jumlahnya. Sehingga menjadi beban yang paling tinggi bagi anggaran kesehatan. Sehingga, Pemerintah menghadapi beban ganda dalam menghadapi masalah kesehatan yang tak tiada hentinya.

“Indonesia saat ini menghadapi tantangan ‘Beban Ganda Penyakit’. Kita harus tetap giat melakukan berbagai upaya untuk menurunkan infeksi penyakit menular seperti TB, diare dan berbagai gangguan kesehatan ibu dan bayi. Pada saat bersamaan, kita juga perlu meningkatkan berbagai upaya pencegahan dan mengatasi penyakit-penyakit tidak menular, yang pengobatannya membutuhkan biaya yang sangat besar,” jelas Menteri Kesehatan periode 2012-2014, Nafsiah Mboi, dalam diskusi bersama IHME, baru-baru ini.

Masalah makin kompleks dengan meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia, tapi di sisi lain ada tantangan kombinasi berbagai penyakit pada penduduk lanjut usia. Hal itu terungkap dalam studi 'On the road to universal health care in Indonesia, 1990 – 2016: a systemic analysis for the Global Burden of Disease Study 2016' yang diterbitkan dalam The Lancet. Studi ini meliputi kurun waktu 1990 hingga 2016, yang merupakan bagian dari Studi Global 'Burden of Disease' (GBD) atau Beban Penyakit Global.

Dalam Studi ini, dr. Nafsiah dan tim para peneliti dari IHME dan Indonesia, termasuk Badan Litbang Kementerian Kesehatan, BAPPENAS, Biro Pusat Statistik, Eijkman Oxford Institute, Universitas Indonesia serta BPJS Kesehatan, mengkaji penyebab kematian dan disabilitas dari 333 penyakit. Bukan hanya di Indonesia tapi dengan tujuh negara pembanding.

Studi ini merupakan upaya sistematis terbesar yang pernah dilakukan untuk memahami tren kesehatan di Indonesia serta berbagai penyebabnya. "Beban ganda yang ditanggung pemerintah 70 persen adalah untuk penyakit tak menular. Dan 30 persen penyakit menular. Tentu masih tetap beban ganda," kata Nafsiah.

Sehingga penyakit menular tak bisa dianggap enteng. Sebab penyakit menular masih membunuh banyak orang di Indonesia khususnya di bagian timur di mana banyak orang masih terjangkit diare.

"Misalnya kita katakan oke sudah turun kan ya penyakit menular. Tetapi nanti suatu waktu akan muncul lagi. Jadi masih membebani 70-30," paparnya.

Dia menegaskan bahwa pengobatan lebih mahal daripada pencegahan. Maka dari itu promosi preventif dan pencegahan penting dilakukan.

Studi Beban Penyakit Global (Global Burden of Disease) ini memungkinkan para pembuat kebijakan dan jajarannya di Indonesia untuk makin memahami berbagai penyakit, cidera, dan faktor risiko yang akan memberikan dampak bagi kesehatan. Dilihat juga bagaimana perubahan yang terjadi dari waktu kewaktu.

"Informasi tersebut memampukan kita untuk membuat keputusan kesehatan yang lebih efektif," tutup
Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di University of Washington, Lembaga yang mengkoordinasikan Studi global ini, Christopher Murray.

Dari studi, didapatkan 10 penyebab dari beban ganda penyakit di tahun 2016. 

1. Penyakit Jantung Iskemik
2. Stroke
3. Diabetes
4. Tuberkulosa (TBC)
5. Sakit pinggang bawah dan Nyeri Leher
6. Komplikasi disebabkan kelahiran premature
7. Masalah yang berhubungan dengan panca indra
8. Cedera dan kecelakaan Lalulintas
9. Penyakit Kulit
10. Penyakit yang berhubungan dengan Diare.

(ika/JPC)

Berita Tekait

banner kki

pelatihan perencanaan anggaran jkn3

bl pembiyaan

evaljkn18

monevjkn17

calon fasilitator

cop 01
cop 01
cop 01
policy

Policy Paper