Expanding coverage of government sponsored health insurance:

Two tales from India

Sofi Bergkvist, Access Health International


 

Sofi-BergkvistSofi Bergkvist, Access Health InternationalPada awal sesi ini, Sofi salah satu peneliti dari AHI menggambarkan Puskesmas di India, keadaan Puskesmas yang memprihatinkan dengan pasien yang menumpuk dengan ruangan pelayanan yang buruk. Sebagai gambaran biaya kesehatan India adalah 4% dari GDP dengan biaya pengeluaranpemerintah untuk kesehatan adalah 1% dari GDP. Sedangkan untuk out of pocket atau pengeluaran tunai masyarakat 70%. Penelitian ini meneliti provinsi di India yaitu Adhara Pradesh dan Maharashta. Populasi Andhara Pradesh sebesar 84.66 dengan pendapatan per kapita tahun 2012 sebesar USD 1,430 dan angka MMR per 100.000 adalah 134. Maharashtra mempunyai populasi 112.37 dengan penghasilan per kapita USD 2,020 dan MMR per 100.000 adalah 104. Cakupan asuransi kesehatan berbeda mari kita lihat satu persatu:

Adhra Pradesh

Programnya bernama Aarogyasri dengan populasi dibawah kemiskinan adalah 87% dari populasi. Populasi yang ter-cover adalah 66 juta orang yaitu 90% dari target populasi. Secara keuangan yang ter-cover INR 200.000 ($3,500). Tokoh yang menginisiasi UHC yaitu Perdana Menteri. Pemerintah mensubsidi premi dengan besaran $6.2 per keluarga. Berkaitan dengan resiko keuangan, pemerintah Adhara Pradesh menanggung financial risk dan bekerjasama dengan 271 rumah sakit swasta, 102 rumah sakit publik dengan tempat tidur lebih dari 50 buah.

Maharashtra

Programnya bernama RSBY dengan populasi miskin adalah 18%. Target cakupan 10 juta orang sekitar 50% dari target populasi. Secara keuangan yang trecover INR 30.000 ($500). Pihak yang menginisiasi UHC yaituDirjen Kementrian Sosial dan Tenaga Kerja. Pemerintah mensubsidi premi dengan besaran $6.5 per keluarga. Berkaitan dengan resiko keuangan, Maharashtra menanggung financial risk melalui skema perusahaan asuransi. Program ini bekerjasama dengan 1200 rumah sakit swasta, 15 rumah sakit publik dengan tempat tidur lebih dari 10 buah.

Dari kedua provinsi tersebut terlihat banyak sekali perbedaannya. Sofi juga menggambarkan berapa jumlah puskesmas di keduanya. Perbedaan siapa yang menanggung keuangan atau skema asuransi yang berbeda. Di akhir sesi Sofi menjelaskan, bahwa program kesehatan Aarogyasari di Adhra Pradesh cara bersosialisasinya lewat media utama yaitu teman dan keluarga sekitar 80% dan informasi kedua lewat dokter pribadi. UHC meningkatkan kunjungan di rumah sakit sebesar 40% dan di kedua wilayah berhasil mengurangi lamanya perawatan di rumah sakit.

back Kembali ke halaman reportase

Reportase lainnya

reportase-hari-kedua-inahea-2017Reportase Hari Kedua The 4th Indonesian Health Economic Association (InaHEA) Annual Scientific Meeting & International Seminar on Health...
reportase-hari-ketiga-inahea-2017Reportase Hari Ketiga The 4th Indonesian Health Economic Association (InaHEA) Annual Scientific Meeting & International Seminar on Health...
the-4th-indonesian-health-economic-association-inahea-annual-scientific-meeting-international-seminar-on-health-economics Salah satu pertemuan tahunan yang dinanti oleh para akademisi, praktisi, dan peneliti di bidang ekonomi kesehatan kembali diselenggarakan. Tahun ...
reportase-ihea-2017-closing-plenaryReportase iHEA 2017 Closing Plenary Oleh: Giovanni van Empel Daron Acemoglu, Profesor Ekonomi dari MIT memaparkan hasil penelitiannya menggunakan...