Achieving UHC with support IT

Ms.-NetnapisMs. Netnapis Teknologi informasi dan komunikasi (ICT) merupakan pendukung penting keberhasilan UHC. Jika dilihat dari framework pelaksanaan UHC yang direkomendasikan Joint Learning Networks (JLN), ICT masuk sebagai kebutuhan fungsional UHC. Saat ini lebih dari 100 staff bekerja terkait dengan pengembangan, implementasi dan maintenance ICT untuk NHSO, dengan lebih dari 1.200 rumah sakit, 10.000 primary health centers, 77 provinsi dan 13 kantor cabang yang terhubung dengan NHSO melalui jaringan internet. Pengeluaran ICT untuk infrastruktur, pengembangan sistem dan pemeliharaan kurang lebih 100 juta Baht per tahun (10% dari total pengeluaran operasional NHSO).

Terkait dengan aktivitas TIK dalam NHSO, Ms. Netnapis menjelaskan terdapat 6 core business dari departemen ICT NSO, yaitu pertama, strategic planning. Tahun 2003 Biro Teknologi dan Informasi NHSO membuat master plan IT yang mencakup 3 kebutuhan besar, 1). Arsitektur jaringan yang menghubungkan seluruh stakeholder terkait (kantor cabang, rumah sakit, primary care, kementrian dalam negri), 2). Arsitektur database sebagai data center untuk mengakomodasi variasi data yang dikumpulkan dari berbagai macam stakeholder, termasuk skema interoperabilitas antar multiple sistem dan 3). Arsitektur aplikasi untuk mengakomodasi transaksi data, manajemen data dan excecutive information systems. Kedua, health provider registration systems yang digunakan secara nasional. Ketiga, beneficaries enrollement atau pendaftaran kepesertaan secara nasional. Penduduk Thailand dapat melakukan pendaftaran kepesertaan melalui jejaring fasilitas kesehatan, kantor cabang dan primary health center di seluruh Thailand. Termasuk yang dikembangkan adalah integrasi dengan data pencatatan sipil, sehingga NHSO juga berperan dalam melakukan cleaning data kependudukan. Update data kependudukan dengan database Kementrian Dalam Negri dilakukan secara otomatis melalui Enterprise Application Integration (EAI). Kementrian Dalam Negri mengirimkan data secara otomatis tiap malam ke NHSO untuk update kepesertaan seperti kelahiran, kematian, perubahan nama, perubahan alamat (baik alamat tempat tinggal maupun alamat tempat terdaftarnya pelayanan kesehatan).

       Keempat, Fund management, seperti klaim elektronik dari rumah sakit, reimburstment yang terintegrasi dengan sistem bank. Data yang terkumpul di data center juga dimanfaatkan untuk menganalisis proyeksi kebutuhan anggaran tahun berikutnya. Penting untuk dipertimbangkan mekanisme pembayaran yang dilakukan oleh UC Scheme.

    1. Pelayanan rutin menggunakan kapitasi untuk semua pelayanan rawat jalan dan penggunaan DRG untuk pelayanan rawat inap. Terkait dengan DRG, terdapat departemen lain di Kementrian Kesehatan yang melakukan pengembngan dan update DRG.
    2. Pay on top untuk pelayanan kesehatan yang berbiaya mahal.
    3. Pembayaran lain yang diakibatkan oleh kesalahan medis, biaya depriviasi, pengobatan tradisional dan insentif khusus untuk primary health unit yang mencapai standar pelayanan tertentu.

       Kelima, health service quality control. Bekerjasama dengan Biro Audit NHSO, biro ICT menyediakan data elektronik untuk membantu monitoring dan evaluasi pelayanan kesehatan. Selain itu, fasilitas data warehouse dengan data yang masuk hampir real time, digunakan untuk pengembangan decision support systems (alert, reminder) untuk mendukung quality control seperti alert terkait angka kejadian tinggi readmission untuk kasus yang sama, angka kejadian tinggi untuk operasi tertentu dan lain sebagainya.

       Keenam, Consumer protection dalam bentuk call center dengan nomor khusus dan beroperasi 24 jam sehari. Beberapa inovasi ICT diperkenalkan dalam pengelolaan NHSO untuk membantu peningkatan efisiensi pelayanan kesehatan dalam skema UHC, antara lain: pertama, e-payment sistem yang terhubung dengan sistem perbankan, sehingga memudahkan untuk proses reimbursment ke rumah sakit. Kedua, Smart Vendor Management Inventory (VMI), yang pada dasarnya adalah inventory systems dalam mendukung pembelian obat, sediaan farmasi dan bahan habis pakai secara terpusat (centralized purchasing), terutama untuk medical product yang berbiaya mahal dan volumenya besar. Dengan pembelian terpusat ini dapat mengurangi biaya pembelian medical product nasional sampai 50 persen, mengurangi pembelian medical product yang slow movement, Ketiga, Antidot Distributin Systems yang mengakomodasi distribusi antidotum secara nasional sehingga dapat menjamin ketersediaanm, mengoptimalkan penggunaan dan distribusi obat-obatan antidotum secara nasional.

         Beberapa isu terkait pemanfaatan ICT lainnya yang penting adalah pertama, penentuan standar data set untuk mendukung interoperabiltias antar sistem. NHSO mengembangkan 50 tabel data set untuk mendukung UHC. Kedua, dengan jumlah staf yang terbatas, beberapa kegiatan dioutsourcing-kan dengan tenaga ahli dari luar, baik vendor, research center. Ketiga, dalam mendesain sistem informasi, NHSO menggunakan 99,9 percent of service level agreement untuk menjamin pelayanan ICT yang diberikan. Real time application cluster digunakan untuk mencapai service level agreement. Keempat, disaster site (DR site) disediakan di lokasi yang berbeda dengan jarak 20 km dari server pusat. Disaster site (DR Site). Mekansime backup dilakukan secara bertingkat sesuai dengan prioritas data. Data kepesertaan dan data klaim menjadi prioritas utama backup yang dilakukan setiap hari. Back up mingguan digunakan untuk data dan applikasi, sedangkan full backup dilakukan per bulan.

pdf-icon Download Presentasi


back Kembali ke Exchange and Study Program on UHC and information systems

bl pembiyaan

monevjkn17

calon fasilitator

cop 01
cop 01
cop 01
policy

pendaftaran-alert

lapjkn

regulasi-jkn copy

arsip-pjj-equity

Arsip Kegiatan

Dana-Dana Kesehatan

pemerintah

swasta-masy

jamkes

*silahkan klik menu diatas

Policy Paper

Link Terkait

jamsosidthe-lancet