Langkah 7. Melakukan evaluasi terhadap aksi perubahan yang dilakukan.

Pertanyaan kritis:

  • Bagaimana mengukur dampak dan kapan pengukurannya?
  • Dampak diukur dengan memahami proses pelaksanaan kebijakan terpilih dan aplikasi programnya serta jumlah kematian absolut
  • Menggunakan pendekatan time-series (before and after). Sebaiknya dilakukan kontrol dengan menggunakan kabupaten yang belum melakukan reformasi.
    7a
  • Berapa lama akan memberikan hasil berupa penurunan jumlah kematian ibu? Berapa targetnya? 5 tahun? 4 tahun? 3 tahun? 2 tahun? Tahun depan?
  • Apabila kabupaten tindakan memberikan hasil yang positif, secara etis kabupaten kontrol harus diberi tindakan serupa. Apakah bisa?

Catatan:

Tantangan menarik untuk pembaharuan dan penguatan kebijakan dan manajemen dalam sistem KIA:

  1. Bagaimana Dinas Kesehatan mampu berperan secara inovatif dan komprehensif dalam akselerasi pencapaian MDG4 dan MDG5?
    • Membutuhkan kepemimpinan tinggi dari DinKes untuk mengelola pelayanan KIA sebagai suatu sistem kesehatan yang menggunakan pendekatan jaringan yang terdiri dari berbagai lembaga dan profesi, termsuk para spesialis;
    • Membutuhkan kepemimpinan Dinas Kesehatan yang mampu menggalang dukungan pemimpin politik di Kabupaten Y;
    • Membutuhkan kepemimpinan Dinas Kesehatan yang mampu menggalang dukungan seluruh masyarakat.

    Dalam konteks jaringan ada 3 pemimpin yang perlu aktif:

    • Pemimpin politik: Bupati/Walikota
    • Pemimpin sistem kesehatan: Kepala Dinas Kesehatan
    • Pemimpin teknis medik: Dr.SpOG, Dr.SpA
  2. Bagaimana sistem pelayanan KIA ini dapat mempunyai berbagai penanggung-jawab yang berbeda namun terintegrasi dan terdiri atas:
    • Kegiatan di RS (hilir): Dr.SpOG dan Dr.SpA
    • Kegiatan di masyarakat dan Pustu (hulu): Ketua IBI setempat (?)
    • Kegiatan di Puskesmas dan Rujukan: Pimpinan Puskesmas. 
    • Penanggung-jawab keseluruhan:Kepala Dinas Kesehatan ( mencakup Kegiatan Sistem Informasi dan surveillans KIA di Kabupaten).
      Apa fungsi penanggung-jawab? Berpartisipasi dalam menyusun Visi, Melakukan perencanaan jangka menengah dan tahunan, melaksanakan rencana dan memimpin sesuai kewenangan, melakukan monitoring , dan bersama pihak independen melakukan monitoring.
  3. Bagaimana melakukan pengaktifan Spesialis. Apakah mungkin di setiap Kabupaten ada seorang spesialis yang bertanggung jawab atas aspek medik KIA? Bagaimana meningkatkan ownership (kepemilikan) spesialis mengenai KIA? Bagaimana menghimbau non-playing captain menjadi playing captain? Apakah dokter spesialis bersedia menjadi penanggung jawab klinik pelayanan KIA?
  4. Bagaimana memperkuat kerjasama antar profesi di bidang kesehatan: Spesialis Obsgin, Spesialis Anak, Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Umum, Bidan, Perawat, Manajer Dinas Kesehatan dan RS
    Apakah membutuhkan taskshifting? Misal: Jika SpOG tidak ada, bagaimana dengan dokter umum. Apakah boleh melakukan SC? Darimana sumber pendanaan untuk tugas para profesional?
  5. Bagaimana menggalang dukungan pemerintah daerah dan masyarakat. Sikap mendukung untuk mengurangi kematian ibu dari Bupati dan stafnya serta DPRD. Anggaran pemerintah daerah perlu ditingkatkan. Dukungan tidak tidak hanya dari DinKes, juga dari RSD, SKPD terkait kesehatan. Penyusunan peraturan-peraturan yang mendukung mengurangi kematian ibu perlu ditetapkan. Dukungan seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. Masyarakat di kalurahan dan kecamatan, PKK, Organisasi masyarakat, Lembaga-lembaga swadaya masyarakat perlu ditingkatkan. Bagaimana caranya?
  6. Secara keseluruhan: bagaimana menganalisis pemerimaan dan penentangan stakeholders KIA terhadap usulan perubahan ini?

monevjkn17

calon fasilitator

cop 01
cop 01
cop 01
policy

pendaftaran-alert

lapjkn

regulasi-jkn copy

arsip-pjj-equity

Arsip Kegiatan

Dana-Dana Kesehatan

pemerintah

swasta-masy

jamkes

*silahkan klik menu diatas

Policy Paper

Link Terkait

jamsosidthe-lancet