SEMINAR

Keberlangsungan Program Jaminan Kesehatan Nasional: Tantangan dan Strategi

 

TOR

  Pengantar

Keberlangsungan JKN sangat dipengaruhi oleh berbagai hal, isu missmatch yang dialami oleh BPJS Kesehatan menjadi isu hangat yang banyak diperbincangkan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional saat ini. Dalam forum Indonesian Health Economic Asociation (InaHEA) ke-4 di Surabaya tanggal  13-15 September 2017  salah satunya membahas tentang transisi epidomiologi berperan dalam meningkatnya biaya pelayanan dalam sektor kesehatan. Dalam pertemuan tersebut, Menteri Kesehatan RI menyajikan data adanya tren peningkatan pembiayaan kesehatan di sektor penyakit tidak menular, hal ini terlihat sejak tahun 1990 hingga 2015. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2015, pembiayaan kesehatan untuk penyakit katastropik dan penyakit tidak menular mencapai 57% dibanding dengan penyakit menular dan cedera, sehingga hal ini berdampak pada semakin membengkaknya biaya pelayanan dalam implementasi JKN.

Salah satu strategi yang dapat menekan permasalahan tersebut adalah dengan menggalakkan upaya promotif dan preventif di masyarakat, tentunya yang berperan penting dalam hal ini adalah fasilitas kesehatan di layanan primer selaku ujung tombak dalam pelayanan kesehatan. Lantas muncul pertanyaan selanjutnya apakah upaya promotif dan preventif dapat memberikan respon cepat dengan kondisi missmatch yang dialami oleh BPJS Kesehatan saat ini serta di sisi lain juga perlu kajian tentang strategic purchasing khususnya dalam pembiayaan penyakit katastropik dalam program JKN.

  Tujuan

  1. Membahas transisi epidemiologi dan dampak terhadap keberlangsungan program JKN
  2. Membahas optimalisasi upaya promotif dan preventif dalam program JKN: kebijakan dan implementasi
  3. Membahas pembiayaan penyakit katastropik dalam program JKN: peran dan tantangan strategic purchasing

  Peserta

  1. Anggota Community of Practice JKN dan Kesehatan
  2. Peneliti, praktisi, dan akademisi

  Agenda

Diskusi ini akan diselenggarakan pada hari Jumat, 20 Oktober 2017 pukul 14.00-15.30 WIB; bertempat di Ruang Leadership, Gedung IKM Lama lantai 3 Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada. Bapak/ Ibu/ Sdr yang tidak dapat hadir secara tatap muka dapat tetap mengikusi diskusi webinar melalui link registrasi berikut:

Link Webinar: https://attendee.gotowebinar.com/register/5910089790228997378

Webinar ID: 890-583-187

Arsip diskusi bersama Community of Practice Pembiayaan Kesehatan dan JKN dapat diakses selengkapnya melalui website http://www.kebijakankesehatanindonesia.net/  dan website http://manajemen-pembiayaankesehatan.net/ 

  Pemateri

  1. Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM., M.Kes., MSc.PH
  2. Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Primer, BPJS Kesehatan
  3. Dr. drg. Yulita Hendrartini, M.Kes, AAK

  Pembahas

  1. Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D
  2. P2JK Kemenkes

  Susunan Acara

Waktu

Materi

Pemateri/Pembahas

14.00 - 14.10

Pembukaan

Moderator

14.10 - 14.25

Sesi 1:

Transisi epidemiologi dan dampak terhadap keberlangsungan program JKN

Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM., M.Kes., MSc.PH

14.25 - 14.40

Sesi 2:

Optimalisasi upaya promotif dan preventif dalam program JKN: kebijakan dan implementasi

Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Primer, BPJS Kesehatan

14.40 – 14.55

Sesi 3:

Pembiayaan penyakit katastropik dalam program JKN: peran dan tantangan strategic purchasing

Dr. drg. Yulita Hendrartini, M.Kes, AAK

14.55 – 15.10

Sesi 4:

Pembahasan

Pembahas

-   Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D

-         P2JK Kemenkes

15.10 - 15.20

Diskusi/ Tanya-Jawab

Pambahas & Pemateri

15.20 - 15.30

Penutup

Moderator

 

 

Reportase & Materi

jkn keberlangsungan

PKMK FK UGM mellaui program CoP Pembiayaan Kesehatan dan JKN kembali menyelenggarakan seminar monitoring dan evaluasi JKN 2017 dengan mengangkat tema “Keberlangsungan Program Jaminan Kesehatan Nasional: Tantangan dan Strategi” pada Jumat, 20 Oktober 2017 dengan pemateri yaitu Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM., M.Kes., MSc.PH (Guru Besar FKM Unhas), dr. Fachrurrazi, MM, AAK (Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Primer BPJS Kesehatan), Dr. drg. Yulita Hendrartini, M.Kes, AAK (FK UGM), dan pembahas yaitu H. Ismiwanto Cahyono, MARS (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI).

Pada sesi pertama, Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM., M.Kes., MSc.PH memaparkan tentang transisi epidemiologi (saat ini) yang berdampak pada pembiayaan di era JKN. Transisi epidemiologi meliputi beberapa aspek diantaranya transisi kesehatan, demografi, gaya hidup, pelayanan kesehatan, dan ekologi. Saat ini beberapa negara berkembang termasuk Indonesia mengalami kondisi dimana angka penyakit menular masih tinggi namun di sisi lain angka penyakit tidak menular juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari total populasi masyarakat Indonesia, 73%  persentase kematian disebabkan oleh penyakit tidak menular. Berbagai faktor risiko yang mempengaruhi hal tersebut yaitu penggunaan tembakau, hipertensi, aktivitas fisik yang kurang, obesitas, peningkatan kolesterol, dan kurangnya konsumsi buah dan sayur.

Penyakit tidak menular atau penyakit katastropik ini juga berdampak pada pembiayaan di era JKN, karena tidak dapat dipungkiri bahwa biaya yang dikeluarkan dalam pengobatan penyakti katastropik cukup besar dikarenakan kompleksitas penyakit dan lama perawatan yang diperlukan. Adanya program JKN yang memberikan aksesibilitas kepada masyarakat dalam menggunakan pelayanan kesehatan yang memicu terjadinya over utilisasi dimana masyarakat menggunakan pelayanan secara berlebihan khususnya pada pelayanan penyakit tidak menular dan berdampak pada peningkatan biaya kesehatan. Tentunya, permasalahan ini menjadi tanggung jawab semua lini masyarakat, dimulai dari level individu, keluarga, komunitas, institusi, hingga pada level nasional.

Selanjutnya pada sesi kedua, pembahasan lebih kepada upaya atau strategi yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan dalam menekan pembiayaan pada penyakit katastropik yaitu dengan menggalakkan upaya promotif dan preventif. Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Primer BPJS Kesehatan, memaparkan berbagai program yang telah diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan dalam optimalisasi upaya promotif dan preventif diantaranya Konsultasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), program skrining riwayat kesehatan, preventif sekunder, IVA sinergi, olahraga sehat yang dilakukan serentak setiap bulan, Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), penyediaan sarana promosi kesehatan melalui media, hingga program Gerakan Masyarakat (Germas).

Kemudian, pada sesi selanjutnya Dr. drg. Yulita Hendrartini, M.Kes, AAK menjelaskan tentang strategic purchasing dalam pembiayaan penyakit katastropik. Secara umum, strategic purchasing lebih kepada metode pembayaran dalam meningkatkan kinerja dari provider yang terdiri dari apa yang akan dibeli, kepada siapa kita membeli, dan bagaimana mekanisme pembeliannya. Ketiga komponen tersebut menjadi kunci dalam strategi pembayaran.

Jika mengacu pada pertanyaan apa yang dibeli? Tentunya, diketahui bersama bahwa saat ini manfaat JKN bersifat komprehensif dan tidak adanya iur biaya, sehingga diduga menjadi pemicu terjadinya defisit. Lantas hal ini, menimbulkan pertanyaan selanjutnya yaitu seberapa jauh kita akan menjamin manfaat JKN? Apakah penyakit katastropik menjadi kebutuhan dasar seluruh masyarakat? Pada kelompok masyarakat mana yang lebih banyak mengalami penyakit katastropik? Hal ini perlu pembahasan lebih lanjut dalam penentuan dan pembatasan manfaat JKN oleh pihak terkait dan harapannya pada penentuan paket manfaat berdasarkan pada kebutuhan masyarakat.

Materi: 

pdf iconOptimalisasi Pelaksanaan Program Promotif Preventif BPJS Kesehatan

pdf iconPembiayaan Penyakit Katasropik Dalam Jkn Dan Tantangan Strategik Purchasing

pdf iconEarly Epid Transtition

Reporter: Sri Fadhilah (PKMK FK UGM)

bl pembiyaan

monevjkn17

calon fasilitator

cop 01
cop 01
cop 01
policy

pendaftaran-alert

lapjkn

regulasi-jkn copy

arsip-pjj-equity

Arsip Kegiatan

Dana-Dana Kesehatan

pemerintah

swasta-masy

jamkes

*silahkan klik menu diatas

Policy Paper

Link Terkait

jamsosidthe-lancet