Reportase InaHEA

Sesi Efisiensi Rumah Sakit – 2

Reporter: DR. Dra. Anastasia Susty Ambarriani. MSi., Akt., CA

 

Dr-drg-Yulita-Hendrartini-MKes-AAKSesi Presentasi Oral Kedua Efisiensi RS 2, dimoderatori oleh Dr. Yulita Hendratini.  Efisiensi pelayanan kesehatan dibutuhkan untuk menghindari pemborosan biaya pelayanan yang dapat membebani pasien. Pelayanan kesehatan yang efisien akan memberi kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang lebih baik dan merata. Dalam Kongres pertama InaHEA ini, efisiensi rumah sakit sebagai ujung tombak tercapainya kesejahteraan kesehatan nasional menjadi topik yang penting. Berbagai penelitian yang terkait dengan efisiensi rumah sakit disajikan oleh para pemateri.

Dalam sesi kedua untuk presentasi oral ini, hadir empat pemateri yang masing-masing menyajikan hasil riset yang terkait dengan upaya efisiensi rumah sakit. Sesi ini dimulai jam 15.15 WIB, di ruang Socrates, Hotel Novotel, Bandung. Topik pertama disajikan oleh Andreasta Meliala, dari Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada. Topik yang disajikan oleh penyaji  pertama ini berjudul “Kepuasan Kompensasi Dokter di Rumah sakit dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional”.

dr-Andreasta-Meliala-DPH-MKes-MASDalam topik ini, penyaji menyampaikan bahwa kepuasan kompensasi dokter berhubungan dengan karakteristik individu dokter (umur, jenis kelamin, kedudukan dalam rumah tangga), mekanisme pembayaran yang berlaku di rumah sakit, besaran jasa, transparansi, keadilan internal dan eksternal di rumah sakit. Outcome bukan merupakan hal yang diperhatikan oleh dokter dalam meningkatkan kepuasan kompensasi.  Penyaji juga mengungkapkan bahwa penggunaan model INA-CBG’s dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional dapat menurunkan kepuasan kompensasi dokter di rumah sakit. Sosialisasi dan simulasi mekanisme pembayaran kompensasi dokter dengan sistem INA CBG’s perlu dilakukan untuk kesiapan para dokter di rumah sakit dalam era BPJS.

Topik kedua dalam sesi ini disajikan oleh A. Heri Iswanto, Direktur umum RSIA Kemang Medical Care. Topik yang disampaikan oleh Heri berjudul ‘’JKN di RS Swasta dan Strategi Menghadapi JKN”. Topik ini menjelaskan tentang strategi RSIA Kemang Medical Care dalam melakukan efisiensi, strategi yang digunakan oleh RSIA Kemang Medical Care adalah ‘Lean Hospital’.  Aksi yang dilakukan dalam lean hospital di Kemang Medical Care antara lain adalah memperpendek waktu tunggu pasien, upaya administrasi dengan metode paperless dan mengubah desain layout rumah sakit sedemikian rupa sehingga aktivitas dapat dilakukan tanpa banyak memboroskan waktu. Hasil yang dicapai dengan pendekatan lean hospital di RSIA Kemang Medical Care sungguh mengagumkan. RSIA dapat menghemat biaya dalam jumlah yang sangat signifikan.

Ambo-SakkaTopik berikutnya dalam sesi ini merupakan artikel hasil penelitian yang ditulis oleh Ambo Sakka, Rahman dan la Ode Ali Imran Ahmad. Topik yang disampaikan kali ini berjudul “ Analisis Investasi Penggunaan Obat Oleh Pasien Rawat Inap Peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) di Rumah Sakit Umum BahteraNas, Provinsi Sulawesi utara Tahun 2012”. Dalam presentasinya, penyaji mengungkapkan bahwa obat merupakan bagian penting baik di dalam sistem pelayanan kesehatan Jamkesmas maupun Jamkesda, hal ini dibuktikan bahwa ketika jumlah pasien Jamkesmas dan Jamkesda menurun, maka penggunaan jumlah obat pun menurun. Sebagai bagian yang penting dalam sistem pelayanan kesehatan, pengawasan penggunaan obat harus dilakukan dengan hati-hati sebab penggunaan obat berdampak pada investasi dana yang dikeluarkan untuk keperluan pengadaan obat tersebut.  Di Rumah Sakit Umum Bahtera Mas Sulawesi Tenggara, investasi obat untuk pasien rawat inap peserta Jamkesmas dan Jamkesda sebagian besar terfokus pada lima jenis obat, meskipun obat yang digunakan ada 218 jenis. Lima jenis obat tersebut mempunyai prosentasi penggunaan sebesar 32,29 % dari total penggunaan dengan investasi dana sebesar 67,96%. Berdasarkan besarnya investasi untuk obat tersebut, diharapkan pihak terkait melakukan pengawasan yang maksimal terhadap penggunaan obat.

Kurnia-SariPemateri selanjutnya adalah Kurnia Sari, yang menyajikan hasil penelitian dengan judul “Pembiayaan Obat di Rumah Sakit Pemerintah: Studi Kasus di 12 Kabupaten/Kota di Indonesia”. Serupa dengan pemateri sebelumnya, Kurnia berpendapat bahwa pengeluaran obat untuk pelayanan kesehatan mempunyai proporsi yang signifikan (30%). Biaya obat yang ditanggung oleh pasien dalam pelayanan kesehatan juga sangat tinggi dan seringkali menjadi beban terbesar dalam pelayanan kesehatan. Hal ini akan sangat terasa terutama bagi pasien yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh pemateri dan tim, mengungkapkan bahwa pola distribusi obat di rumah sakit pemerintah sebesar 53% – 57% digunakan untuk pasien rawat inap, sedangkan 43% – 47% digunakan untuk pasien rawat jalan. Dari penggunaan obat tersebut, obat-obatan analgetik dan antibiotik merupakan jenis obat yang menyerap biaya terbesar dari total pembiayaan obat di rumah sakit pemerintah. Pembiayaan obat di rumah sakit pemerintah sebagian besar berasal dari sektor publik, yaitu sebesar 82% -90%, sedangkan sisanya berasal dari donor.

 

Download Materi:
Analisis Penggunaan Investasi Obat pd pasien Rawat Inap Jamkesmas dan Jamkesda
Pembiayaan Obat di RS Pemerintah
Pengaruh Knowledge Aquisition, Strategy, characteristic, Management pada kinerja RS

backKembali ke halaman utama reportase InaHEA

bl pembiyaan

monevjkn17

calon fasilitator

cop 01
cop 01
cop 01
policy

pendaftaran-alert

lapjkn

regulasi-jkn copy

arsip-pjj-equity

Arsip Kegiatan

Dana-Dana Kesehatan

pemerintah

swasta-masy

jamkes

*silahkan klik menu diatas

Policy Paper

Link Terkait

jamsosidthe-lancet