Remaja Sulit Mengakses Pelayanan Kesehatan Reproduksi

SEMARANG  — Kaum remaja di Jawa Tengah kesulitan mengakses pelayanan kesehatan dan konseling. Selain karena waktu layanan di puskesmas bersamaan dengan jam sekolah, stigma negatif kerap dilekatkan pada remaja sehingga mereka enggan mengakses layanan itu.

Koordinator Divisi Edukasi Pusat Informasi dan Layanan Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah Adelia Ismarizha, Rabu (19/8) malam, mengemukakan hal itu saat berkunjung ke kantor Kompas di Kota Semarang, Jateng. Padahal, remaja sebenarnya membuka diri terhadap pendidikan reproduksi. Mereka tak segan untuk bercerita mengenai pengalaman mereka.

"Tergantung metodenya. Kalau menyenangkan, tak membosankan, dan tidak menghakimi, remaja pasti suka, karena banyak remaja penasaran untuk mengetahui soal kesehatan reproduksi dan seksualitas," kata Adelia.

Namun, pelayanan kesehatan dan konseling bagi remaja yang disediakan pemerintah di puskesmas belum dimanfaatkan remaja. Penyebab utamanya adalah puskesmas beroperasi pada pukul 08.00-13.00, padahal remaja menempuh pendidikan di sekolah pukul 07.00-14.00.

Selain itu, remaja yang berkonsultasi di fasilitas kesehatan kerap mendapat stigma negatif. "Mau bertanya tentang kesehatan reproduksi, sudah dikira hamil. Kalau sudah dihakimi, siapa pun merasa tidak nyaman. Selain itu, kerap terjadi konselor memaksakan nilai-nilai yang dianut pada remaja, padahal itu tak sesuai konteks kekinian," ujarnya.

Direktur Eksekutif Daerah PKBI Jateng Elisabet SA Widyastuti memaparkan, remaja kurang mendapat perhatian, khususnya untuk pendidikan kesehatan reproduksi. Padahal, pendidikan kesehatan reproduksi penting bagi remaja yang punya banyak dorongan, termasuk aktivitas seksual. Jika tidak dipahami dengan baik, hal itu akan berdampak buruk bagi remaja.

Sejauh ini, sedikit sekolah memberi pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja. Padahal, remaja SMP dan SMA butuh informasi itu agar bisa mengendalikan dorongan seksualnya.

Dalam beberapa forum diskusi kelompok remaja, pihaknya menemukan banyak remaja sudah beraktivitas seksual aktif. Sebagian kasus akhirnya menyebabkan kehamilan yang tak diinginkan. "Sayangnya, sedikit sekolah sadar pentingnya pendidikan reproduksi bagi remaja. Bahkan, sebagian guru senior menganggap pendidikan reproduksi tabu untuk dibicarakan," kata Elisabet.

Karena itu, PKBI bekerja sama dengan sejumlah sekolah mengadakan pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah. Guru-guru dengan mata pelajaran terkait dilatih agar bisa menyampaikan informasi kesehatan reproduksi kepada peserta didik dengan tepat dan menarik.

Menurut riset yang dilakukan di Semarang oleh Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, guru merasa tak cukup punya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan kurang percaya diri menyampaikan materi (Kompas, 22 Januari 2015). (UTI)

sumber: KOMPAS

Berita Tekait

monevjkn17

calon fasilitator

cop 01
cop 01
cop 01
policy

Policy Paper