25 Persen Klaim Penyakit di BPJS Kesehatan Akibat Rokok

image_title

VIVA – Murahnya harga rokok yang dijual di Indonesia, membuat rokok makin mudah digapai segala kalangan. Terutama oleh masyarakat miskin dan juga anak-anak . Sebuah riset yang dilakukan oleh University of Illinois di Chicago, mencatat  bahwa harga rokok di Indonesia menduduki ranking rokok termurah peringkat 10 dari 36 negara Asia Pasifik.

Hal ini kemudian berakibat pada membengkaknya beban negara terkait dengan penyakit akibat rokok. Seperti diketahui, rokok sendiri merupakan salah satu faktor risiko untuk penyakit jantung, paru-paru dan beragam penyakit lainnya.

"Beban negara yang besar dapat dilihat dari kenyataan bahwa 25 persen klaim BPJS adalah untuk penyakit akibat rokok di antaranya jantung dan kanker paru," kata Peneliti Center for Indonesia’s Strategic Initiative (CISDI), Anindita Sitepu, dalam keterangannya, Senin 10 September 2018.

Dalam simulasinya ia mengatakan, dari 10 orang pasien kanker paru, 9 orang di antaranya umum disebabkan oleh kebiasaan merokok. CISDI juga merujuk pada data bahwa BPJS Kesehatan saat ini mengalami defisit.

"Saat ini pemasukannya hanya sekitar Rp150 triliun, namun pengeluarannya mencapai Rp600 triliun untuk biaya pengobatan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh rokok.

Terkait dengan tingginya beban BPJS tersebut, penting untuk mempersoalkan besaran dan alokasi pemanfaatan hasil cukai rokok. Wacana yang semakin besar terbangun adalah bahwa sebagai salah satu produk yang dapat menimbulkan adiksi, maka sudah sepatutnya hasil cukai rokok dimanfaatkan untuk biaya pengobatan atas penyakit akibat rokok.

Analogi yang sama, lanjut Nurul, juga berlaku bagi produk-produk yang mengandung alkohol, di mana tarif cukai yang dikenakan begitu tinggi karena didasari kesadaran akan bahaya konsumsinya.

Berita Tekait

banner kki

pelatihan perencanaan anggaran jkn3

bl pembiyaan

evaljkn18

monevjkn17

calon fasilitator

cop 01
cop 01
cop 01
policy

Policy Paper