Kata Menkes soal 2 Obat Kanker Usus yang Tak Ditanggung BPJS Kesehatan

Kata Menkes soal 2 Obat Kanker Usus yang Tak Ditanggung BPJS KesehatanKata Menkes soal 2 Obat Kanker Usus yang Tak Ditanggung BPJS Kesehatan

Jakarta - Pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tak lagi menanggung obat kanker usus Bevacizumab dan Cetuximab. Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek mengatakan pemerintah tetap memberi alternatif obat lain untuk menggantikan dua obat yang tidak ditanggung tersebut.

"BPJS itu juga harus melihat efektivitas, termasuk obat. Obat itu juga harus efektif. Kita nggak main beli, ngasih begitu aja. Sekarang itu selalu dinilai, Pak, oleh kami ada yang namanya HTA (Health Technology Assesment) yang menilai. Betul nggak obat ini diperlukan. Atau ada juga penggantinya yang sama efektifnya. Tapi harga lebih murah," kata Nila di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (25/2/2019).

Nila mengatakan pemerintah tetap memberikan solusi terkait dua obat yang menjadi polemik di masyarakat tersebut. Dia menegaskan, pemberian obat tersebut tetap dikaji para ahli.

"Jadi obat untuk cancer kita berikan obat dasar, pengobatan. Ini untuk meningkatkan kualitas hidupnya atau memperpanjang. Nah ini dilihat dulu cost-nya nanti tentu bicara dengan profesi dan semuanya. Nanti kalau seandainya dapet, sudah dalam, ya kita juga tidak berarti harus langsung memberhentikan, nggak," ucapnya.

Sebelumnya, pihak BPJS Kesehatan menyiapkan alternatif obat kanker pengganti Bevacizumab dan Cetuximab yang bisa digunakan pasien dan dianggap lebih efektif.

"Tentu ada beberapa. Jadi bukan berarti dengan berlakunya ketentuan baru atas obat ini menjadikan pasien JKN tidak mendapatkan obat lain," Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Rujukan BPJS Kesehatan, Budi Muhammad Arif, Kamis (21/2).


Dalam Formularium Nasional (Fornas), obat pengganti tersebut antara lain irinotekan, kapesitabin, dan oksaliplatin. Obat tersebut berupa injeksi yang diberikan kepada pasien sesuai dosisnya.

"Substitusinya ada karena di Fornas itu dia harus bisa melakukan pelayanan kepada penyakit tertentu dan tidak menghilangkan. Selalu ada penggantinya," katanya.
(fdu/jbr)

Berita Tekait